Mahar Pernikahan Unik menggunakan uang kuno

Mahar Pernikahan Unik menggunakan uang kuno
Mahar Pernikahan Unik menggunakan uang kuno

Mahar Pernikahan Unik menggunakan uang kuno – Banyak calon pengantin yang ingin menikah, akan tetapi tidak mengetahui apa sih sebenarnya tujuan disyariatkannya mahar dalam pernikahan. Hal ini terkadang menjadikan mereka hanya asal “suka-suka” dalam penentuan maharnya. Hal ini terlihat dari adanya trend mahar atau mas kawin tidak lagi mengarah kepada esensi material, tetapi lebih cenderung menjadi simbol-simbol pernikahan. Ketika mahar atau mas kawin diperlakukan sebagai simbol, persoalan yang mengemuka bukan lagi berkahnya sebuah mahar, atau juga ukuran besar kecilnya nilai mas kawin, tetapi menjadi sarat dengan nilai-nilai sensasi dan historis, misalnya saja tanggal kelahiran kedua calon atau tanggal untuk pertama kali keduanya bertemu atau angka tertentu yang menunjukkan saat yang bersejarah bagi keduanya. Sekilas bagi calon pengantin pemberian mahar dengan sejumlah uang disesuaikan tanggal dan tahun pernikahan atau karena disesuaikan dengan hitungan-hitungan tertentu mungkin sangat istimewa, contohnya saja mahar pernikahan pasangan pengantin yang berupa uang sebesar Rp. 203.015, konon mahar itu sebagai simbol tanggal pernikahan mereka karena mereka menikah ditanggal 2 Maret 2015. Atau misalnya kecenderungan banyaknya pengantin yang menggunakan mahar berupa uang sejumlah bilangan tanggal jadian mereka. Uang itu sengaja dibingkai seperti lukisan dan banyak yang digunakan sebagi hiasan dinding. Uang 203.000 rupiah mungkin saat itu masih mempunyai nilai dan berlaku, akan tetapi jika itu dibingkai selama 10 tahun saja, maka nilainya akan terkikis zaman dan kadaluarsa alias tidak diberlakukan lagi sebagai alat transaksi oleh Bank Indonesia. Sehingga hal ini masuk perbuatan mubadzir (perbuatan syetan) seandainya saja setelah pernikahan uang sejumlah itu diberikan anak yatim, maka akan banyak manfaatnya, akan tetapi sang pemilik mahar menyia-nyiakannya hingga harta tersebut tidak memanfaati dirinya, baik untuk manfaat dunia dan akhiratnya.

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Q.S. Al-Israa’ : 26-27)”

Belum lagi persoalan yang hukum kadar sebuah mahar menjadi sebuah “kebohongan” karena hakikanya uang 15 perak yang disebutkan pada saat ijab qobul sudah merupakan kertas atau besi logam biasa. Uang logam 15 perak hanya memiliki angka nominal akan tetapi sudah tidak bernilai sebagai transaksi atau tidak berlaku sebagai alat pembayaran. Lantas bagaimana mungkin uang itu digunakan untuk membayar mahar? Sudah begitu dikatakan “tunai” saat ijab qobul, sungguh hal ini menjadikan merusak akad mahar yang disebutkan dalam akad.